Selasa, 22 Oktober 2013

askep hypoglikemi simptomatis


ASKEP. NEONATUS
 DENGAN  HYPOGLIKEMI SIMPTOMATIS

A.   Pengertian
Hipoglikemi adalah suatu keadaan, dimana kadar gula darah plasma  puasa kurang dari 50 mg/%.
Populasi yang memiliki resiko tinggi mengalami hipoglikemi adalah:
-       Diabetes melitus
-       Parenteral nutrition
-       Sepsis
-       Enteral feeding
-       Corticosteroid therapi
-       Bayi dengan ibu dengan diabetik
-       Bayi dengan  kecil masa kehamilan
-       Bayi dengan ibu yang ketergantungan narkotika
-       Luka bakar
-       Kanker pankreas
-       Penyakit Addison’s
-       Hiperfungsi kelenjar adrenal
-       Penyakit hati

Type hipoglikemi digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:
-       Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan  sistem produksi pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.

-        Hipoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

-       Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus  sehingga terjadi peningkatan metabolisme  yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

-       Berulang  ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

B.    Patofiologi
Hipermetabolisme
 
HIPOGL
IKEMI
 
Sepsis
Intra uterin malnutrisi
 


Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga

Kadar glukaosa darah kurang
 
Pemakaian parenteral nutrition
 

Enteral feeding


Disfungsi pankreas
 
Pemakaian Corticosteroid therapi

Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika

Kanker  pada keluarga



Text Box: Potensial komplikasi s.e kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi
Ggn  metabolisme muskuler
 
GGn saraf otonom
 
Daya tahan turun
 
Text Box: Potensial infeksi
Text Box: Potensial terjadi hipotermi
 
















C.    Fokus Pengkajian
Data dasar yang perlu dikaji adalah :
1.     Keluhan utama : sering tidak jelas tetapi bisanya simptomatis, dan lebih sering hipoglikemi merupakan diagnose sekunder yang menyertai keluhan lain sebelumnya seperti asfiksia, kejang, sepsis.

2.     Riwayat :
-                ANC
-                Perinatal
-                Post natal
-                Imunisasi
-                Diabetes melitus pada orang tua/ keluarga
-                Pemakaian parenteral nutrition
-                Sepsis
-                Enteral feeding
-                Pemakaian Corticosteroid therapi
-                Ibu yang memakai atau ketergantungan narkotika
-                Kanker

3.                  Data fokus
   Data Subyektif:
-            Sering masuk dengan keluhan yang tidak jelas
-            Keluarga mengeluh bayinya keluar banyaj keringat dingin
-            Rasa lapar (bayi sering nangis)
-            Nyeri kepala
-            Sering menguap
-            Irritabel

Data obyektif:
-            Parestisia pada bibir dan jari, gelisah, gugup, tremor, kejang, kaku,
-       Hight—pitched cry, lemas, apatis, bingung, cyanosis, apnea, nafas cepat irreguler, keringat dingin, mata berputar-putar, menolak makan dan koma
-            Plasma glukosa < 50 gr/%

D.   Diagnose dan Rencana Keperawatan

1.     Potensial komplikasi s.e kadar glukosa plasma yang rendah seperti, gangguan mental, gangguan perkembangan otak, gangguan fungsi saraf otonom, koma hipoglikemi

Rencana tindakan:
-                Cek serum glukosa sebelum dan setelah makan
-                Monitor : kadar glukosa, pucat, keringat dingin, kulit yang lembab
-                Monitor vital sign
-                Monitor kesadaran
-                Monitor  tanda gugup, irritabilitas
-                Lakukan pemberian susu manis  peroral 20 cc X 12
-                Analisis kondisi lingkungan yang berpotensi menimbulkan hipoglikemi.
-                Cek BB setiap hari
-                Cek tanda-tanda infeksi
-                Hindari terjadinya hipotermi
-                Lakukan kolaborasi pemberian Dex 15 %  IV
-                Lakukan kolaborasi pemberian O2 1 lt – 2 lt /menit

2.                       Potensial terjadi infeksi s.e penurunan daya tahan tubuh
Rencana tindakan:
-       Lakukan prosedur perawatan tangan sebelum dan setelah tindakan
-       Pastikan setiap benda yang dipakai kontak dengan bayi dalam keadaan bersih atau steril
-       Cegah kontak dengan petugas atau pihak lain yang menderita infeksi saluran nafas.
-       Perhatikan kondisi feces bayi
-       Anjurkan keluarga agar mengikuti prosedur septik aseptik.
-       Berikan antibiotik sebagai profolaksis sesuai dengan order.
-       Lakukan pemeriksaan DL, UL, FL secara teratur.

3.     Potensial Ggn Keseimbangan cairan dan elektrolit s.e peningkatan pengeluaran keringat
-       Cek intake dan output
-       Berikan cairan  sesuai dengan  kebutuhan bayi /kg BB/24 jam
-       Cek turgor kulit bayi
-       Kaji intoleransi minum bayi
-       Jika mengisap sudah baik anjurkan pemberian ASI

4.  Keterbatasan gerak dan aktivitas s.e hipoglikemi pada otot
-       Bantu pemenihan kebutuhan sehari-hari
-       Lakukan fisiotherapi
-       Ganti pakaian bayi secara teratur dan atau jika kotor dan basah.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito (1997), L.J Nursing Diagnosis,  Lippincott , New York
Marino (1991), ICU Book, Lea & Febiger, London
Nelson (1993), Ilmu Kesehatan Anak,  EGC, Jakarta
Suparman (1988), Ilmu Penyakit Dalam , Universitas Indonesia, Jakarta.
Wong and Whaley (1996) Peiatric Nursing ; Clinical Manual, Morsby, Philadelpia

askep anemia


LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA


A.        PENGERTIAN
Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar Hb dan atau hitung eritrosit lebih rendah dari normal. Anemia adalah berkurangnya jumlah eritrosit serta jumlah Hb dalam 1mm3 darah atau berkurangnya volume sel yang didapatkan (packed red cells volume) dalam 100 ml darah.

B.        PENYEBAB ANEMIA
Anemia dapat dibedakan menurut mekanisme kelainan pembentukan, kerusakan atau kehilangan sel-sel darah merah serta penyebabnya. Penyebab anemia antara lain sebagai berikut:
1.     Anemia pasca perdarahan : akibat perdarahan massif seperti kecelakaan, operasi dan persalinan dengan perdarahan atau perdarahan menahun:cacingan.
2.     Anemia defisiensi: kekurangan bahan baku pembuat sel darah. Bisa karena intake kurang, absorbsi kurang, sintesis kurang, keperluan yang bertambah.
3.     Anemia hemolitik: terjadi penghancuran eritrosit yang berlebihan. Karena faktor intrasel: talasemia, hemoglobinopatie,dll. Sedang factor ekstrasel: intoksikasi, infeksi –malaria, reaksi hemolitik transfusi darah.
4.     Anemia aplastik disebabkan terhentinya pembuatan sel darah oleh sumsum tulang (kerusakan sumsum tulang).







C.        TANDA DAN GEJALA
1.     Tanda-tanda umum anemia:
a.     pucat,
b.     tacicardi,
c.     bising sistolik anorganik,
d.     bising karotis,
e.     pembesaran jantung.
2.     Manifestasi khusus pada anemia:
a.     Anemia aplastik: ptekie, ekimosis, epistaksis, ulserasi oral, infeksi bakteri, demam, anemis, pucat, lelah, takikardi.
b.     Anemia defisiensi: konjungtiva pucat (Hb 6-10 gr/dl), telapak tangan pucat (Hb < 8 gr/dl), iritabilitas, anoreksia, takikardi, murmur sistolik, letargi, tidur meningkat, kehilangan minat bermain atau aktivitas bermain. Anak tampak lemas, sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, anak tak tampak sakit, tampak pucat pada mukosa bibir, farink,telapak tangan dan dasar kuku. Jantung agak membesar dan terdengar bising sistolik yang fungsional.
c.     Anemia aplastik : ikterus, hepatosplenomegali.

D.        PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.     Kadar Hb.
Kadar Hb <10g/dl. Konsentrasi hemoglobin eritrosit rata-rata < 32% (normal: 32-37%), leukosit dan trombosit normal, serum iron merendah, iron binding capacity meningkat.
2.     Kelainan laborat sederhana untuk masing-masing tipe anemia :
a.     Anemia defisiensi asam folat : makro/megalositosis
b.     Anemia hemolitik : retikulosit meninggi, bilirubin indirek dan  total naik, urobilinuria.
c.     Anemia aplastik : trombositopeni, granulositopeni, pansitopenia, sel patologik darah tepi ditemukan pada anemia aplastik karena keganasan.

E.         PENATALAKSANAAN
a.     Anemia pasca perdarahan: transfusi darah. Pilihan kedua: plasma ekspander atau plasma substitute. Pada keadaan darurat bisa diberikan infus IV apa saja.
b.     Anemia defisiensi: makanan adekuat, diberikan SF 3x10mg/kg BB/hari. Transfusi darah hanya diberikan pada Hb <5 gr/dl.
c.     Anemia aplastik: prednison dan testosteron, transfusi darah, pengobatan infeksi sekunder, makanan dan istirahat.

F.    MASALAH KEPERAWATAN YANG SERING MUNCUL
1.     Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan berkurangnya komparten seluler yang penting untuk menghantarkan oksigen / zat nutrisi ke sel.
2.     Tidak toleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan tidak seimbangnya kebutuhan pemakaian dan suplai oksigen.
3.     Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kurangnya selera makan.

G.   TINDAKAN KEPERAWATAN
1.     Perfusi jaringan adekuat
-        Memonitor tanda‑tanda vital, pengisian kapiler, wama kulit, membran mukosa.
-        Meninggikan posisi kepala di tempat tidur
-        Memeriksa dan mendokumentasikan adanya rasa nyeri.
-        Observasi adanya keterlambatan respon verbal, kebingungan, atau gelisah
-        Mengobservasi dan mendokumentasikan adanya rasa dingin.
-        Mempertahankan suhu lingkungan agar tetap hangat sesuai kebu­tuhan tubuh.
-        Memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
2.     Mendukung anak tetap toleran terhadap aktivitas
-       Menilai kemampuan anak dalam melakukan aktivitas sesuai dengan kondisi fisik dan tugas perkembangan anak.
-       Memonitor tanda‑tanda vital selama dan setelah melakukan aktivitas, dan mencatat adanya respon fisiologis terhadap aktivitas (peningkatan denyut jantung peningkatan tekanan darah, atau nafas cepat).
-       Memberikan informasi kepada pasien atau keluarga untuk berhenti melakukan aktivitas jika teladi gejala‑gejala peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah, nafas cepat, pusing atau kelelahan).
-       Berikan dukungan kepada anak untuk melakukan kegiatan sehari­ hari sesuai dengan kemampuan anak.
-       Mengajarkan kepada orang tua teknik memberikan reinforcement terhadap partisipasi anak di rumah.
-       Membuat jadual aktivitas bersama anak dan keluarga dengan melibatkan tim kesehatan lain.
-       Menjelaskan dan memberikan rekomendasi kepada sekolah tentang kemampuan anak dalam melakukan aktivitas, memonitor kemam­puan melakukan aktivitas secara berkala dan menjelaskan kepada orang tua dan sekolah.
3.     Memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat
-       Mengijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
-       Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
-       Mengijinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
-       Mengevaluasi berat badan anak setiap hari.










































DAFTAR PUSTAKA

  1. Betz, Sowden. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatrik. Edisi 2. Jakarta, EGC.
  2. Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Cetakan I. Jakarta, EGC.
  3. Suriadi, Yuliani R. (2001). Asuhan Keperawatan pada Anak. Edisi I. Jakarta, CV Sagung Seto.
  4. Tucker SM. (1997). Standar Perawatan Pasien. Edisi V. Jakarta, EGC.
  5. Smeltzer, Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta, EGC.
  6. FKUI. (1985). Ilmu Kesehatan Anak. Volume 1. Jakarta, FKUI.
  7. Harlatt, Petit. (1997). Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2. Jakarta, EGC.
  8. ACS. (2003). What is Anemia ?. Available (online) http: // www // yahoo / nurse / leucemia / htm.









askep aspirasi mekonium


ASUHAN KEPERAWATAN ASPIRASI MEKONIUM


A.    PENGERTIAN

Terisapnya cairan amnion yang tercemar mekonium ke dalam paru yang dapat terjadi pada saat intra uterin, persalinan dan kelahiran.

B.    ETIOLOGI

§  Riwayat persalinan postmatur
§  Riwayat janin tumbuh lambat
§  Riwayat kesulitan persalinan, riwayat gawat janin, asfiksia berat
§  Riwayat persalinan dengan air ketuban bercampur mekonium

C.   PENGKAJIAN

  • Cairan amnion tercemar mekonium
  • Kulit bayi diliputi mekonium
  • Tali pusat dan kulit bayi berwarna hijau kekuningan
  • Gangguan napas (merintih, sianosis, napas cuping hidung, retraksi, takipnue)
  • Biasanya disertai tanda bayi lebih bulan

Pemeriksaan Laboratorium :
§  Preparat darah hapus, kultur darah, darah rutin, analisa gas darah (hipoksemia, asidemia)
§  Pemeriksaan sinar X dada

D.  KOMPLIKASI

  • Hipoksia serebri, gagal ginjal, keracunan O2, pneumothorak
  • Sepsis, kejang, retardasi mental, epilepsi, palsi serebral

D.   PENATALAKSANAAN MEDIS

§       Tindakan resusitasi
§       Pemberian antibiotika
§       Terapi suportif : infuse, oksigen, jaga kehangatan, pemberian ASI

E. ASUHAN KEPERAWATAN

No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/Kriteria
Rencana Tindakan

1.


Resiko cedera berhubungan dengan sepsis neonatal

Tidak terjadi cedera

Kriteria :
§  Bayi menerima terapi sesuai pesanan
§  Bayi mengalami kultur ulang setelah tindakan medis yang menunjukkan tak ada ‘pertumbuhan’ atau komplikasi lain.
§  Bayi mengalami normotermik

§  Pertahankan isolasi : perawatan isolasi
§  Ubah posisi tiap 2 jam
§  Observasi tanda vital setiap 2 jam, beritahu perubahan dan laporkan dokter sesuai kebutuhan
§  Pantau tanda vital
§  Pertahankan suhu lingkungan netral
§  Periksa suhu setiap 2 jam
§  Pertahankan prosedur mencuci tangan ketat
§  Ajarkan tehnik mencuci tangan pada orang tua sebelum memegang bayi
§  Berikan oksigen sesuai pesanan
§  Lakukan AGD periodik sesuai pesanan
§  Rencanakan periode istirahat; hindari memegang yang tak perlu


No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/Kriteria
Rencana Tindakan

















































































































§  Lakukan tindakan pendinginan bila bayi menggigil, mis., lepaskan sumber pemanas eksternal atau selimut berikan mandi hangat
§  Dengan perlahan rangsang bila apnea dengan menggosok dada, menggoyang kaki
§  Pertahankan peralatan resusitasi di dekatnya
§  Observasi terhadap tanda fokal kacau mental
§  Hisap lendir hidung dan mulut sesuai kebutuhan
§  Miringkan kepala
§  Lindungi dari gerakan membentur sisi inkubator atau box
§  Berikan oksigen sesuai kebutuhan
§  Bantu dokter dalam kerja septik sesuai indikasi
§  Berikan antibiotik sesuai pesanan
§  Beri penkes pada ortu tentang pemberian obat (nama obat, dosis, waktu, tujuan, efek samping), pentingnya rawat jalan, gejala kekambuhan






No
Diagnosa Keperawatan
Tujuan/Kriteria
Rencana Tindakan

2.



Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan bayi malas minum

Kebutuhan nutrisi terpenuhi

§  Kriteria:
§  Bayi tidak kehilangan berat badan
Bayi mampu mempertahankan/menunjukkan peningkatan berat badan

§  Berikan cairan parenteral sesuai pesanan
§  Ukur masukan dan haluaran
§  Timbang berat badan bayi setiap hari
§  Berikan makanan melalui sonde sesuai pesanan
§  Catat aktifitas bayi dan perilaku makan secara akurat
§  Observasi koordinasi reflek menghisap/menelan
§  Berikan kebutuhan menghisap pada botol sesuai indikasi